Kamis, 04 September 2014

Cerpen Persahabatan



Petikan Sebuah Nada
“Lari…larii, cepat lari dan sembunyi!” teriak seorang pedagang asongan. Semua orang berlarian tak tentu arah. Ternyata, ada beberapa petugas merazia tempat itu. Akupun segera berlari untuk menyelamatkan diri agar aku tak tertangkap oleh mereka. Alhasil, aku berhasil lari dari mereka. Waktu menunjukan jam 3 sore, akupun kembali menuju markas, tempat tinggalku. Aku adalah seorang pengamen jalanan berusia 14tahun. aku tak tinggal bersama orang tuaku, bahkan aku tak tahu siapa orang tua kandungku. Hidup di jalanan yang panas itulah kehidupanku. Aku tinggal bersama pengamen-pengamen kecil lainya dan bosku, bang Joni.
                “Woii! Sini lu dit!” teriak bang joni kepadaku. “Iye bang, nih pendapatanku hari ini. Masih sedikit, solanya tadi di tempat saya manggkal ada razia bang,” ucapku. “Ahh, Alesan lu! Hari ini lu nggak gue kasih jatah makan siang!” ucapnya keras. “Yahh, saya kan laper bang,” keluhku. “udah jangan banyak omong! Sana ngamen lagi!” getaknya.
                Hari ini cukup melelahkan bagiku, sepertinya mendapatkan sebungkus nasi saja sangat susah. Tapi, aku sudah terbiasa akan hal itu, ya, tidak dapat jatah makan. Jalanan yang panas, membuat diriku makin lemas, tapi aku harus terus ngamen biar bang Joni nggak marah. “Nahh, udah cukup nih pasti. Lagian juga udah malem. Aku pulang ajadeh.” ucapku dalam hati dengan sangat senang.
                Aku sering bermimpi kalau aku bisa sekolah dan menjadi orang sukses. Tapi itu sangat sulit, karena biaya sekolah sekarang ini sangat mahal. “Ah, jangan ngimpi Dit, kamu itu hanya seorang pengamen,” ucapku. Dan akhirnya aku tertidur karena sangat lelah.
***
                “Woii, bangun! Jangan males lu! Cepet bangun!” getak bang Joni saat membangunkanku. “Hoaam, iyaa bang saya bangun,” jawabku. Aku membuka mata, dan langsung mengarahkan kakiku menuju kamar untuk berwudu dan mandi. Ini adalah satu-satunya saadah yang aku punya, ya walaupun sudah kusam dan jebol. Langit sudah mulai menampakan kecerahanya, seperti biasa, aku segera mengambil gitar dan langsung peri ngamen. Tiba-tiba, “brukkk” aku terjatuh dan nggak sadarkan diri. Saat aku membuka mata, aku sudah berada di Rumah Sakit dan aku tidak ingat sama sekali apa yang terjadi padaku.
                “Hai, kamu sudah sadar?” tanya seorang gadis seumuranku yang sedkit membuat aku kaget. “Uhh, aku dimana? Kamu siapa? Dan apa yang terjadi padaku? Kenapa aku ada disini? Dimana bang Joni?” tanyaku sangat penasaran. “Kamu sekarang ada di Rumah Sakit, kenalin, aku Dita tadi sopirku nggak sengaja nabrak kamu yang sedang menyebrang di jalan trus kamu nggak sadarkan diri, yaudah kita bawa kamu ke rumah sakit ini. Oh iya nama kamu siapa? Trus kamu tadi kok bawa gitar segala?” ucap gadis cantik itu. “Namaku Adit, iya, aku seorang pengamen jalanan, aku tinggal di markas deket jalan tol situ,” jawabku sambil menunjukkan arah markasku. Kata dokter, aku hanya butuh istirahat, dan aku memutuskan untuk pulang ke markas.
                “Makasih ya Ditaa, saya jadi merepotkan kamu,” kataku. “nggak kok, kan ini bagian dari tanggung jawabku karna udah nabrak kamu tadi,” jawabnya dengan senyuman. “Yaudah, sekali lagi makasih yaa, hati-hati dijalan,”  jawabku.
***
                “Ditt! Aditt!” seperti ada yang memanggilku dari arah belakang dan ternyata itu Dita. “Hey, kamu kenapa kesini?” tanyaku. “Aku disuruh mamaku buat ngajak kamu ke rumah, kemarin aku cerita ke mama kalau aku nabrak orang, trus aku cerita tentang kamu ke mama, dan mama menyuruhku untuk ngajak kamu main kerumah, mau kan? Dan aku fikir, kamu anak yang baik-baik kok.” Katanya. “Hmm, gimana yaa, aku lagi kerja dan kalau aku nggak dapat uang pasti bang Joni marah padaku,” jawabku sedih. “bang Joni? Siapa itu?” tanyanya. “Dia adalah bos ku,” jawabku. “Oalahh, udah gampang mah kalau itu, biar aku yang urus, yuk ikut sekarang,” ucapnya padaku.
                “Maa,, Dita pulang maa,” teriak Dita. “Iya sayang, mama turun sebentar lagi,” jawab mamanya. “Oalaahh, ini to yang kamu bilang kemarin itu? Seorang yang  pekerja keras?” Tanya mama Dita. Aku hanya menunduk malu. “Ma, kan dua minggu lagi aku ada lomba nyanyi, nah Adit juga pintar main gitar, gimana kalau aku duet sama dia? Mau kan Dit?” kata Dita. “Mama terserah kamu aja Dita,” jawabnya. “gimana dit? Tanya dita. “hmm, terserah deh” jawabku.
***
                2 minggu sudah kita berlatih, dan saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba! Aku dan Dita harus jadi yang terbaik, fikirku. “Dit, nanti jam 7 aku jemput ke tempatmu yaa. Siapkan yang terbaik!” ucap Dita. “Iya dit aku tunggu. Siapp boss hehe,” jawabku. “hahah sip deh, toss dulu dong!” rayunya. “Tosss!”.
                Jam sudah menunjukan pukul  7 malam tapi Dita belum juga tiba. Aku menunggunya sudah hampir 30menit dan dia juga belum sampai. Tiba-tiba, kawanku, Rodi memberitahuku, kalau Dita kecelakaan di perempatan dekat tempat aku ngamen setiap hari. Aku langsung berlari kesana. Dan membawa Dita kerumah sakit. Aku segera menelepon mamanya buat ngasih kabar kalau Dita ada di rumah sakit. “Tante, ini saya Adit, tante segera kesini ya, Dita kecelakaan, dia ada di Rumah Sakit Budi Kusumo ruang mawar nomer 7.” Kataku melalui via telepon. Tak lama kemudian, mama Dita datang. Air mata mama Dita yang terlihat begitu tersiksa melihat Dita terbaring di kasur rumah sakit.
“Adit, sekarang, kamu cepat pergi ke kontes ya, kamu bisa tanpa Dita, dan kamu harus membawa piala kemenangan untuk DIta, tante mohon dit,” pinta tante Moni (mama Dita) padaku. “Baik tante, saya akan lakukan sebisa saya! Dan akan membawa piala kemengangan kemari. Tante tunggu disini dan doakan saya bisa!,” kataku dengan penuh semangat. Aku pun segera pergi ke kontes, untung saja nomor undianku belum terpanggil. Nah, ini tiba waktunya aku menunjukan pada semua bahwa pegamen jalanan juga bisa menadi yang terbaik! Dan alhasil, buah dari semua latihanku dan semangatku aku bisa membawa  dan memberikan piala itu kepada Dita yang sekarang mungkin sudah tenang di sisi-Nya.                                                                                       TAMAT
By : Farida Destiara Harinda Putri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar