Petikan Sebuah Nada
“Lari…larii, cepat lari dan
sembunyi!” teriak seorang pedagang asongan. Semua orang berlarian tak tentu
arah. Ternyata, ada beberapa petugas merazia tempat itu. Akupun segera berlari
untuk menyelamatkan diri agar aku tak tertangkap oleh mereka. Alhasil, aku
berhasil lari dari mereka. Waktu menunjukan jam 3 sore, akupun kembali menuju
markas, tempat tinggalku. Aku adalah seorang pengamen jalanan berusia 14tahun.
aku tak tinggal bersama orang tuaku, bahkan aku tak tahu siapa orang tua kandungku.
Hidup di jalanan yang panas itulah kehidupanku. Aku tinggal bersama
pengamen-pengamen kecil lainya dan bosku, bang Joni.
“Woii!
Sini lu dit!” teriak bang joni kepadaku. “Iye bang, nih pendapatanku hari ini.
Masih sedikit, solanya tadi di tempat saya manggkal ada razia bang,” ucapku.
“Ahh, Alesan lu! Hari ini lu nggak gue kasih jatah makan siang!” ucapnya keras.
“Yahh, saya kan laper bang,” keluhku. “udah jangan banyak omong! Sana ngamen
lagi!” getaknya.
Hari
ini cukup melelahkan bagiku, sepertinya mendapatkan sebungkus nasi saja sangat
susah. Tapi, aku sudah terbiasa akan hal itu, ya, tidak dapat jatah makan.
Jalanan yang panas, membuat diriku makin lemas, tapi aku harus terus ngamen
biar bang Joni nggak marah. “Nahh, udah cukup nih pasti. Lagian juga udah
malem. Aku pulang ajadeh.” ucapku dalam hati dengan sangat senang.
Aku
sering bermimpi kalau aku bisa sekolah dan menjadi orang sukses. Tapi itu
sangat sulit, karena biaya sekolah sekarang ini sangat mahal. “Ah, jangan
ngimpi Dit, kamu itu hanya seorang pengamen,” ucapku. Dan akhirnya aku tertidur
karena sangat lelah.
***
“Woii,
bangun! Jangan males lu! Cepet bangun!” getak bang Joni saat membangunkanku.
“Hoaam, iyaa bang saya bangun,” jawabku. Aku membuka mata, dan langsung
mengarahkan kakiku menuju kamar untuk berwudu dan mandi. Ini adalah
satu-satunya saadah yang aku punya, ya walaupun sudah kusam dan jebol. Langit
sudah mulai menampakan kecerahanya, seperti biasa, aku segera mengambil gitar
dan langsung peri ngamen. Tiba-tiba, “brukkk” aku terjatuh dan nggak sadarkan
diri. Saat aku membuka mata, aku sudah berada di Rumah Sakit dan aku tidak
ingat sama sekali apa yang terjadi padaku.
“Hai,
kamu sudah sadar?” tanya seorang gadis seumuranku yang sedkit membuat aku
kaget. “Uhh, aku dimana? Kamu siapa? Dan apa yang terjadi padaku? Kenapa aku
ada disini? Dimana bang Joni?” tanyaku sangat penasaran. “Kamu sekarang ada di
Rumah Sakit, kenalin, aku Dita tadi sopirku nggak sengaja nabrak kamu yang
sedang menyebrang di jalan trus kamu nggak sadarkan diri, yaudah kita bawa kamu
ke rumah sakit ini. Oh iya nama kamu siapa? Trus kamu tadi kok bawa gitar
segala?” ucap gadis cantik itu. “Namaku Adit, iya, aku seorang pengamen
jalanan, aku tinggal di markas deket jalan tol situ,” jawabku sambil menunjukkan
arah markasku. Kata dokter, aku hanya butuh istirahat, dan aku memutuskan untuk
pulang ke markas.
“Makasih
ya Ditaa, saya jadi merepotkan kamu,” kataku. “nggak kok, kan ini bagian dari
tanggung jawabku karna udah nabrak kamu tadi,” jawabnya dengan senyuman.
“Yaudah, sekali lagi makasih yaa, hati-hati dijalan,” jawabku.
***
“Ditt!
Aditt!” seperti ada yang memanggilku dari arah belakang dan ternyata itu Dita.
“Hey, kamu kenapa kesini?” tanyaku. “Aku disuruh mamaku buat ngajak kamu ke
rumah, kemarin aku cerita ke mama kalau aku nabrak orang, trus aku cerita
tentang kamu ke mama, dan mama menyuruhku untuk ngajak kamu main kerumah, mau
kan? Dan aku fikir, kamu anak yang baik-baik kok.” Katanya. “Hmm, gimana yaa,
aku lagi kerja dan kalau aku nggak dapat uang pasti bang Joni marah padaku,”
jawabku sedih. “bang Joni? Siapa itu?” tanyanya. “Dia adalah bos ku,” jawabku.
“Oalahh, udah gampang mah kalau itu, biar aku yang urus, yuk ikut sekarang,”
ucapnya padaku.
“Maa,,
Dita pulang maa,” teriak Dita. “Iya sayang, mama turun sebentar lagi,” jawab
mamanya. “Oalaahh, ini to yang kamu bilang kemarin itu? Seorang yang pekerja keras?” Tanya mama Dita. Aku hanya
menunduk malu. “Ma, kan dua minggu lagi aku ada lomba nyanyi, nah Adit juga
pintar main gitar, gimana kalau aku duet sama dia? Mau kan Dit?” kata Dita.
“Mama terserah kamu aja Dita,” jawabnya. “gimana dit? Tanya dita. “hmm,
terserah deh” jawabku.
***
2
minggu sudah kita berlatih, dan saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba! Aku
dan Dita harus jadi yang terbaik, fikirku. “Dit, nanti jam 7 aku jemput ke
tempatmu yaa. Siapkan yang terbaik!” ucap Dita. “Iya dit aku tunggu. Siapp boss
hehe,” jawabku. “hahah sip deh, toss dulu dong!” rayunya. “Tosss!”.
Jam
sudah menunjukan pukul 7 malam tapi Dita
belum juga tiba. Aku menunggunya sudah hampir 30menit dan dia juga belum
sampai. Tiba-tiba, kawanku, Rodi memberitahuku, kalau Dita kecelakaan di
perempatan dekat tempat aku ngamen setiap hari. Aku langsung berlari kesana.
Dan membawa Dita kerumah sakit. Aku segera menelepon mamanya buat ngasih kabar
kalau Dita ada di rumah sakit. “Tante, ini saya Adit, tante segera kesini ya,
Dita kecelakaan, dia ada di Rumah Sakit Budi Kusumo ruang mawar nomer 7.”
Kataku melalui via telepon. Tak lama kemudian, mama Dita datang. Air mata mama
Dita yang terlihat begitu tersiksa melihat Dita terbaring di kasur rumah sakit.
“Adit, sekarang, kamu cepat pergi
ke kontes ya, kamu bisa tanpa Dita, dan kamu harus membawa piala kemenangan
untuk DIta, tante mohon dit,” pinta tante Moni (mama Dita) padaku. “Baik tante,
saya akan lakukan sebisa saya! Dan akan membawa piala kemengangan kemari. Tante
tunggu disini dan doakan saya bisa!,” kataku dengan penuh semangat. Aku pun
segera pergi ke kontes, untung saja nomor undianku belum terpanggil. Nah, ini tiba
waktunya aku menunjukan pada semua bahwa pegamen jalanan juga bisa menadi yang
terbaik! Dan alhasil, buah dari semua latihanku dan semangatku aku bisa
membawa dan memberikan piala itu kepada
Dita yang sekarang mungkin sudah tenang di sisi-Nya.
TAMAT
By : Farida Destiara Harinda
Putri